Rabu, 30 Mei 2012

Mengembangkan Karakter Dari Pedesaan


Jauh sebelum saya mengikuti Pelatihan caracter building di bali  November 2011 bersama lebih dari seratus pemuda utusan dari berbagai daerah, ada sebauh pengalaman yang akan saya bagikan  kepada Insan pembaca dalam sebuah cerita yang di angkat dari pengalaman pribadi penulis. Bermula dari rutinitas kami (Saya, Yudha, Hamid & Hambali) setiap minggu memberikan pengajaran Al-Qur'an di desa Pinang Luar Kab. Kubu Raya. pengajian ini di adakan atas dasar permintaan dari ibu2 majelis ta'lim setempat agar bisa di berikan bimbingan dalam membaca Al-qur'an setiap minggunya. terus terang ini merupakan pengalaman berkesan bagi kami berempat yg berstatus mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi Pontianak. mengendarai 2 motor Kami berempat setiap minggu pagi menempuh jarak skitar 50 KM. dan di sambung dengan kapal kelotok menyebrangi sungai kapuas untuk bisa sampai ke desa pinang. perjalanan ini memakan waktu 1 jam. biasanya aktifitas pengajian kami mulai jam 10, mengajari 25 orang anak-anak usia SD masyarakat setempat, berhenti ketika memasuki waktu zuhur. setelah itu di lanjutkan dengan membimbing ibu-ibu majelis ta'lim membaca Al-quran.yang menarik dan berkesan bagi kami adalah semangat mereka dalam menuntut ilmu. bayangkan saja, mereka yang bekerja sebagai buruh tani, yg sibuk setiap harinya, rela meluangkan waktu  menghadiri pengajian. di tambah lagi banyak di antara mereka yang belajar dari tingkat dasar. demikianlah aktifitas baru ini melarutkan kami hingga tak terasa setelah 1/2 tahun rutinitas ini berlangsung, suatu ketika minggu itu kami datang seperti biasanya, mengajari anak-anak dan dilanjutkan dengan ibu-ibu. ketika akan  memulai kegiatan di awali dengan mengabsen kahadiran ibu-ibu. hari itu kami dapati Ibu Nur Imah ketua majelis ta'limnya berhalangan hadir. karna khawatir, selesai sholat ashar kami ber 4 pergi kerumah Ibu Nur Imah. ketika di rumah beliau kami tahu bahwa Bu Nur Imah adalah seorang wanita yg luar biasa, mungkin lebih tepatnya seperti kartini pedesaan. beliau seorang janda yg bekerja sebagai buruh tani ber usia sekitar 56 th, d rumahnya kami dapati seorang nenek tua dalam keadaan sakit menua (77th) tidak lagi bisa berdiri. kemudian seorang pemuda berusia (30th) yg buntung kakinya. pemuda ini masih keluarga jauh bu' Nur Imah, 1 th yg lalu mengalami kecelakaan di perkebunan kelapa sawit tempat Ia bekerja. tulang kakinya remuk, pinggangnya patah, hingga membuatnya menjad cacat permanen. kendati demikian kami dapati wajahnya yg tampak selalu ceria, di hiasi senyuman. tdk tergambarkan betapa tegarnya Ia dlm menghadapi musibah ini. kemudian di rumah beliau jga ada seorang gadis usia 28th yang ternyata anak beliau.  sebut saja namanya Ratih. Ia jg tdk bisa membantu banyak Bu Nur Imah karna mengalami kelainan sajak kecil (anak berkebutuhan khusus).
Bu Nur Imah seorang Janda berjuang menaggung beban hidup yang sungguh besar. walau demikian dia tak pernah menegluh dan tetep optimis dalam kesehariannya.
ketika di tanyakan kepda beliau bagaimna bisa menghadapi coba'an ini, beliau katakan bahwa Ini adalah kehidupan dunia yang akan menghantarkan nya menggapai kesuksesan abadi, hanya ridho Allah yang di harapkan.

mungkin banyak kisah serupa yang terjadi di tengah-tengah kita. keikhlasan dalam berkorban, kepedulian untuk menghadirkan solusi bagi banyak permaslahan yang sedang di hadapi orang lain hendaknya selalu terpatri di dalam diri kita. dari pemuda untuk Kalimantan Barat, untuk bangsa dan Dynullah...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar